Mas, Dimas! Dibalik Seekor Simpanse

"Pria yang kau sukai, Lucu!" suara itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya sekilas, lalu beralih pada arloji di tangan kiriku. Dia datang tepat waktu, hanya saja aku yang terlalu tak sabar ingin bertemu. Tak mendapat reaksi, dia pun duduk menyejajariku. " Ada banyak cara untuk membuatmu bahagia. Tapi dia, lebih memilih bagaimana cara membuat luka ," imbuhnya, tak ketinggalan senyum sinis yang terlihat manis. Aku hampir berdiri lalu bersiap memukulnya dengan gulungan kertas yang sedari tadi kubawa, namun refleknya sangat bagus. Dia menahanku, lalu tangan kanannya mengulurkan minuman dingin kesukaanku, Ichitan Thai Tea. Sial! Kusambut minuman botol itu dengan helaan nafas. Dia pun tersenyum lagi, kali ini senyum kemenangan. " Namun, ini juga ngga kalah lucu !" aku menoleh kearahnya, belum selesai rupanya. " Ada banyak seseorang yang ingin membahagiakanmu. Tapi kamu, lebih memilih dia yang hanya mengukir luka ," lanjutnya lagi. Hampir...