Langsung ke konten utama

Postingan

Kata Ummi ...

Kata Ummi,

Menikah itu tidak sesederhana aku dan kamu bersatu.
Bukan hanya soal nanti ada yang ngebonceng.
Bukan hanya soal menghilangkan kesepian.
Bukan hanya soal membagi beban, karena kamupun sangat mungkin juga ingin membagi beban yang lain.

Menikah tidak sesederhana membuat foto nikahan paling hitz.
Atau merasa senang banget karena akhirnya punya imam pribadi

Bukan cuma itu

Menikah juga tentang bagaimana ibumu bisa memilihku sebagai asisten pribadinya,

Bagaimana ayahmu bisa dengan senang memperkenalkan aku di hadapan rekan-rekannya,

Bagaimana aku bisa menjadi sahabat untuk saudara-saudaramu,

Dan bagaimana aku bisa tetap memberi dalam keadaan selelah apapun

Menikah tidak sederhana bukan?

Setidaknya aku harus tau bagaimana menjawab pertanyaan anak kecil yang bertanya tentang wujud Allah

Setidaknya aku harus tau bagaimana membujuk anak laki-laki untuk tekun belajar sebelum ujian

Setidaknya aku harus bisa mengenalkan, mana air yang suci, mana yang bisa mensucikan, yang mana yang boleh dipakai wudhu…
Postingan terbaru

Cerita : Hidup Bersama Tuan Putri

Senja kala itu Alfa sedang beristirahat dari penatnya kehidupan dengan menikmati angin yang berhembus di tepi sungai. Mungkin bisa dibilang melamun, karena kehadiran Saka sama sekali tak ia sadari.

"mikirin apa," tanyanya tanpa basa-basi.

"eh, mengejutkanku saja, gimana udah selesai urusannya?" kilah Alfa.

"mikirin apa?" tanyanya lagi.

"ngga ada," jawab Alfa memalingkan muka. Dia memang selalu berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk pertanyaan sepele yang tak perlu dijawab.

"baiklah mari kita lihat bagaimana reaksi Bunda jika tahu kamu menyembunyikan sesuatu sendiri," pancingnya sembari hendak berdiri meninggalkan Alfa. Bunda adalah sosok yang hatinya sangat Alfa jaga.

"ngga penting, ini cuma masalah sepele, kenapa kamu harus tau semua urusanku?" Lagi. Saka memang tau cara bagaimana membuat Alfa tersudut.

"urusanmu jadi urusanku juga, aku berhak tau semua yang menjadi beban dan masalahmu," jawabnya masi…

Drama Hidup : Lupa Cara Kecewa

Aku masih duduk diam termangu di depan komputer.
Nothing to do.
Bukankah kegabutan adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan untukku? Ah aku masih tak percaya ada orang yang berkata setega sejujur itu. Tapi, aku (masih) baik-baik saja.
Ingin menulis, tapi entah kenapa terlalu berat. Aku butuh tempat bercerita sekarang.
Tapi aku tak tau siapa ...  dan apa yang ingin aku ceritakan. Aku pun mencoba mencari video humor dan video agama, sebagai teman.
Sedikit menelisik, bagaimana hubunganku akhir-akhir ini dengan Sang Pencipta? Bagaimana hubunganku dengan keluarga? Dan bagaimana dhubunganku dengan dia? Oke point terakhir cuma intermezzo.

Baiklah Agustus telah berlalu.
Aku merasa pekan ini berjalan lama  ...  dan berat.
Mungkin - - -  kurasa aku kurang bersyukur.
Aku sempat meminta captain bercerita tapi nihil. Dia memang bukan type orang yang mudah untuk bercerita, tapi tak apa. Akan ada saatnya dia bercerita tanpa kuminta, aku masih menantinya.

Aku mencoba menghubungi sahabat lamaku, se…

Monolog Hidup : Aku (Masih) Baik-Baik Saja

"Buk, aku sakit,"
"Dek, aku sakit,"

Entah angin apa yang membuatku memberanikan diri mengirim pesan itu saat matahari belum terlalu tinggi. Lemah kamu, gitu aja ngeluh, bikin yang di rumah panik aja!
Syukurnya, aku tak mendapat respon yang berarti, bahkan hingga malam ini pun tidak ada pesan masuk barangkali berbunyi, "udah minum obat?" atau "udah sembuh / baikan?". Sisi baiknya, mungkin aku telah dianggap mampu hidup sendiri. Ya, benar-benar sendiri. Sebut saja mandiri, untuk menghiburku.

"Sepertinya keseimbanganku tidak bagus hari ini," celotehku tiba-tiba pada rekanku yang tiba-tiba iseng menepuk bahu.
"Kenapa? Pusing? Sini pegang tanganku," tawarnya penuh perhatian.
"Engga, aku baik-baik saja, hanya saja mungkin aku terbangun terlalu pagi dan tertidur terlalu malam," kilahku. Dan setelahnya, aku bersyukur masih bisa bercanda dengan mereka.

Entah karena apa, terlalu banyak hal tidak penting yang bersemayam di be…

Stasiun Kenangan, Bertemu untuk Berpisah.

Ning Stasiun Balapan
Kuto Solo seng dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu

Siapa sih yang tak kenal dengan lirik lagu di atas? Seperti Jogja yang memiliki lagu Terminal Giwangan, Solo pun memiliki lagu tentang kisah asmara berjudul Stasiun Balapan ciptaan Didi Kempot.
Jum'at senja kala itu akhirnya aku bisa merasakan bahagianya pulang tepat waktu, atau malah menunggu waktu? Biasanya aku masih duduk anteng di depan komputer ketika orang-orang riuh bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Dan 8 Juni itu menjadi saat dimana aku yang paling siap untuk pulang tepat waktu, hingga ada beberapa pegawai menyapaku "wah udah siap pulang aja nih", ciyee kelihatan antusias banget. Aku merasa bersyukur masih dapat memegang tiket mudik di hari terakhir kerja tanpa mengganggu jam kerja. Fisik siap. Semangat siap. Bawaan siap (yah meskipun selalu mepet kalo berurusan dengan packing). Makan siap (cuma susu dan makanan ringan wajib dibawa). Oleh-oleh? Setengah siap. Dengan bi…

Cinta Ayah Untuk Anaknya

"Aku pernah sekali menangis, di pundak ayah," pesan itu terkirim bersamaan dengan lolosnya bulir-bulir dari kelopak mata. Tak ada niat tersembunyi, dia hanya ingin berbagi dengan seseorang yang ia percaya. Namun sayangnya, seperti biasa dia harus memakan kekecewaan untuk kesekian kalinya. Lucu, dia masih bisa tersenyum. Ada sosok yang pura-pura bertahan agar tetap tegar di sana. Dengan tajam menatap langit-langit agar tak banyak lagi air mata yang lolos.
Di tengah kelemahannya dalam hal daya ingat, peristiwa 3-4 tahun lalu itu masih enggan meninggalkan memorinya. Sejak saat itu dia bertekad, "Yah, aku mau pergi untuk memperbaiki semuanya,". Pelukan itu masih terasa. Hangatnya. Tenangnya. Ah, dan satu sosok yang tiba-tiba kebingungan dengan apa yang terjadi pada saudara perempuannya.
-------------------------------------------------------------------
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...  Suara takbir dari sound sebuah supermarket membuat seseorang membeku…

73rd Anniversary of Indonesian Independence Day

Kawan,  Untuk apapun dan siapapun yang kini tengah kau perjuangkan,  Jangan lupa merdekakan dirimu sendiri. Bebaskan dirimu dari belenggu pemikiran negatif. Dan bebaskan dirimu dari jeratan hawa nafsu.
Kamu, tidak berjuang sendiri. Ada Allah Swt yang membersamaimu.  Dan ada sahabat yang senantiasa menunggu cerita keberhasilanmu.  Jika kamu lelah, istirahatlah sejenak dan berjalanlah kembali sesudahnya. Katakan padaku, aku akan dengan senang hati mendengar keluh kesahmu.  Serta tak lupa menepuk pundakmu agar senantiasa dikuatkan. - Alfa

[73rd Anniversary of Indonesian Independence Day] . Assalaamu'alaikum😊 . Indonesia adalah salah satu bumi Allah, bumi kaum muslimin, yang Allah Ta'ala telah wariskan untuk orang-orang yang shalih dan beriman. . Ketika negara ini dijajah, dijarrah oleh kaum kuffar, maka banyak para pelopor Muslim Nasionalis Leluhur Kita yang menggerakan Indonesia Menjadi Merdeka tepat pada tanggal ini, tanggal yang sama 73 tahun yang lalu dengan se-Izin Allah T…